PEREBUTAN KURSI
DPR DALAM PEMILU
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Pemilihan
umum merupakan sarana pelaksanaan azas kedaulatan rakyat berdasarkan pancasila
dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemilihan umum diselenggarakan
untuk memilih anggota DPR, DPR I dan DPR II, selain itu juga untuk mengisi
keanggotaan MPR. Pemilu diselenggarakan setiap lima tahun sekali pada waktu
yang bersamaan dan berdasarkan pada demokrasi pancasila. Pemilihan umum bagi
negara demokrasi seperti negara Indonesia sangat penting artinya karena
menyalurkan kehendak asasi politik bangsa, yaitu sebagai pendukung/pengubah
personil-personil dalam lembaga negara.
Pemilihan
umum adalah sarana demokrasi untuk membentuk sistem kekuasaan negara yang
berkedaulatan rakyat dan permusyawaratan perwakilan. Kekuasaan negara yang
lahir dengan pemilihan umum adalah kekuasaan yang lahir dibawah menurut
kehendak rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, sehingga kekuasaan tertinggi
berada ditangan rakyat. Pemilihan umum bertujuan untuk menegakkan prinsip
kedaulatan rakyat.
B.
Rumusan Masalah
1.
Berapakah jumlah
perebutan kursi DPR dalam pemilu legislatif?
2.
Bagaimana cara
menghitung perolehan kursi DPR?
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
PEMILIHAN UMUM
TAHUN 1955
Pemilihan
umum pada tahuun 1955 dilaksanakan dua kali, yang pertama dilaksanakan tanggal
29 September 1955 untuk memilih anggota DPR dan pemilu yang kedua dilaksanakan
tanggal 15 Desember 1955 untuk memilih anggota konstituante. Pada tahuun 1955
ini jumlah kursi DPR yang diperebutkan sebanyak 257 buah, jumlah ini berasal
dari ketentuan bahwa masing-masing anggota DPR yang dipilih mewakili 300.000
orang. Pemilu 1955 menghasilkan 4 (empat) partai politik yang meraih kemenangan
besar yaitu PNI (57 kursi), Masyumi (57 kursi), NU (45 kursi), dan PKI (39
kursi).
A.
Partai Nasional
Indonesia (PNI)
TABEL I
Perolehan suara Partai Nasional Indonesia (PNI)
No.
|
Daerah Perolehan
|
Suara Sah Yang Didapat
|
% Dari Suara Daerah
|
Nomor
|
Kursi Yang Didapat
|
1.
|
Jakarta
Raya
|
152.031
|
19,6
|
2
|
|
2.
|
Jawa
Barat
|
1.541.927
|
22,1
|
2
|
|
3.
|
Jawa
Tengah
|
3.091.568
|
33,5
|
1
|
|
4.
|
Jawa
Timur
|
2.251.069
|
22,8
|
3
|
|
5.
|
Sumatera
Selatan
|
213.766
|
14,6
|
2
|
|
6.
|
Sumatera
Tengah
|
42.558
|
2,7
|
5
|
|
7.
|
Sumatera
Utara
|
329.657
|
15,4
|
2
|
|
8.
|
Nusa
Tenggara Barat
|
464.398
|
37,1
|
1
|
|
9.
|
Nusa
Tenggara Timur
|
65.027
|
5,8
|
4
|
|
10.
|
Kalimantan
Timur
|
43.067
|
25,0
|
2
|
|
11.
|
Kalimantan
Barat
|
64.195
|
13,6
|
3
|
|
12.
|
Kalimantan
Selatan
|
102.855
|
5,9
|
3
|
|
13.
|
Sulawesi
Utara/Tengah
|
102.855
|
19,1
|
6
|
|
14.
|
Sulawesi
Selatan
|
46.218
|
4,2
|
3
|
|
15.
|
Maluku
|
30.218
|
9,1
|
2
|
|
57
|
B.
Masyumi
TABEL II
Perolehan suara Masyumi
No.
|
Daerah Perolehan
|
Suara Sah Yang Didapat
|
% Dari Suara Daerah
|
Nomor
|
Kursi Yang Didapat
|
1.
|
Jakarta
Raya
|
200.460
|
26,0
|
1
|
|
2.
|
Jawa
Barat
|
1.844.442
|
26,4
|
1
|
|
3.
|
Jawa
Tengah
|
902.387
|
10,0
|
14
|
|
4.
|
Jawa
Timur
|
1.109.742
|
11,2
|
1
|
|
5.
|
Sumatera
Selatan
|
628.382
|
43,2
|
1
|
|
6.
|
Sumatera
Tengah
|
797.692
|
50,8
|
1
|
|
7.
|
Sumatera
Utara
|
789.910
|
36,9
|
1
|
|
8.
|
Nusa
Tenggara Barat
|
264.719
|
21,2
|
2
|
|
9.
|
Nusa
Tenggara Timur
|
157.972
|
21,2
|
2
|
|
10.
|
Kalimantan
Timur
|
44.347
|
25,7
|
1
|
|
11.
|
Kalimantan
Barat
|
155.173
|
33,2
|
1
|
|
12.
|
Sulawesi
Utara/Tengah
|
189.199
|
25,0
|
1
|
|
13.
|
Sulawesi
Selatan
|
446.255
|
40,0
|
1
|
|
14.
|
Maluku
|
117.440
|
35,4
|
1
|
|
57
|
C.
Nahdatul Ulama
(NU)
TABEL III
Perolehan suara Nahdatul Ulama (NU)
No.
|
Daerah Perolehan
|
Suara Sah Yang Didapat
|
% Dari Suara Daerah
|
Nomor
|
Kursi Yang Didapat
|
1.
|
Jakarta
Raya
|
120.667
|
15,6
|
3
|
|
2.
|
Jawa
Barat
|
673.552
|
9,6
|
4
|
|
3.
|
Jawa
Tengah
|
1.772.306
|
19,7
|
3
|
|
4.
|
Jawa
Timur
|
3.370.554
|
34,1
|
1
|
|
5.
|
Sumatera
Selatan
|
115.928
|
7,9
|
5
|
|
6.
|
Sumatera
Tengah
|
71.959
|
4,6
|
4
|
|
7.
|
Sumatera
Utara
|
87.773
|
4,2
|
5
|
|
8.
|
Nusa
Tenggara Barat
|
104.282
|
8,3
|
4
|
|
9.
|
Nusa
Tenggara Timur
|
17.684
|
1,6
|
0
|
|
10.
|
Kalimantan
Timur
|
20.795
|
12,1
|
3
|
|
11.
|
Kalimantan
Barat
|
37.495
|
8,1
|
4
|
|
12.
|
Kalimantan
Selatan
|
380.874
|
48,6
|
1
|
|
13.
|
Sulawesi
Utara/Tengah
|
21.619
|
2,9
|
6
|
|
14.
|
Sulawesi
Selatan
|
159.193
|
4,4
|
2
|
|
15.
|
Maluku
|
-
|
-
|
-
|
|
45
|
D.
Partai komunis
indonesia (PKI)
TABEL IV
Perolehan suara Partai komunis indonesia (PKI)
No.
|
Daerah Perolehan
|
Suara Sah Yang Didapat
|
% Dari Suara Daerah
|
Nomor
|
Kursi Yang Didapat
|
1.
|
Jakarta
Raya
|
96.363
|
12,5
|
4
|
|
2.
|
Jawa
Barat
|
755.634
|
10,8
|
3
|
|
3.
|
Jawa
Tengah
|
2.326.108
|
25,8
|
2
|
|
4.
|
Jawa
Timur
|
2.299.609
|
23,3
|
2
|
|
5.
|
Sumatera
Selatan
|
176.900
|
12,1
|
3
|
|
6.
|
Sumatera
Tengah
|
90.513
|
5,3
|
3
|
|
7.
|
Sumatera
Utara
|
258.875
|
0,5
|
4
|
|
8.
|
Nusa
Tenggara Barat
|
66.067
|
4,7
|
5
|
|
9.
|
Nusa
Tenggara Timur
|
5.008
|
1,8
|
3
|
|
10.
|
Kalimantan
Timur
|
8.209
|
3,2
|
6
|
|
11.
|
Kalimantan
Barat
|
8.526
|
4,4
|
7
|
|
12.
|
Kalimantan
Selatan
|
17.210
|
1,6
|
5
|
|
13.
|
Sulawesi
Utara/Tengah
|
33.204
|
1,4
|
5
|
|
14.
|
Sulawesi
Selatan
|
17.831
|
-
|
9
|
|
15.
|
Maluku
|
4.792
|
-
|
8
|
|
39
|
2.
Pemilihan umum
pada masa orde baru dan pemilihan umum masa reformasi
A.
Pemilihan umum
pada masa orde baru
1.
Pemilihan umum
1971
Pada
tanggal 3 Juli 1971 pemilihan umum dilaksanakan untuk memilih DPR, DPRD I, dan
DPRD II. Dalam penguasaan kursi DPR Golongan Karya (Golkar) lewat pemilihan
umum memperoleh 236 kursi (51,30). Jika ditambah dengan 25 kursi Golkar non
ABRI dan 75 kursi Golkar non ABRI yang diangkat maka total kursi Golkar adalah
336 kursi (73,04%). Sementara itu jika jumlah kursi 9 partai politik dihimpun
menjadi satu hasilnya hanya 124 kursi (26,96%). Dengan demikian Golkar berhasil
menguasai mayoritas suara di DPR. Adapun susunan DPR RI Tahun 1971-1977 sebagai
berikut:
Ketua : KH.Dr. Idham Chalid (NU)
Wakil Ketua :
Drs. Sumiskun (NU)
Wakil Ketua : J.
Namo, SH.
Wakil Ketua : R.
Domo Pranoto (NU)
Wakil Ketua :
M.H Isnaeni (Golkar)
2.
Pemilihan Umum
1977
Pada
tanggal 2 Mei 1977 diselenggarakan pemilihan umum yang ketiga. Pada pemilihan
umum 1977 ini diikuti oleh 3 peserta, yaitu Partai Persatuan Pembangunan,
Golongan Karya Dan Partai Demokrasi Indonesia. Untuk yang kedua kalinya Golkar
menang lagi dengan jumlah suara terbanyak 39.750.096 suara (232 kursi),
sementara tempat kedua direbut oleh PPP dengan suara 18.743.491 (99 kursi) dan
yang ketiga direbut olh PDI dengan suara 5.504.757 (29 kursi). Perolehan kursi
dan suara tersebut bisa dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel V
Daftar Pembagian Kursi DPR RI 1977
No.
|
Partai
|
Perolehan Suara
|
Perolehan Kursi
|
1.
|
Golongan karya
|
39.750.096
|
232
|
2.
|
PPP
|
18.743.491
|
99
|
3.
|
PDI
|
5.504.757
|
29
|
JUMLAH
|
360
|
||
Adapun
susunan DPR RI Tahun 1977-1982 sebagai berikut:
Ketua : H. Adam Malik (Golkar)
Wakil Ketua : Mashuri,
SH (Golkar)
Wakil Ketua : Kartidjo
(Golkar)
Wakil Ketua : Moh.
Isnaeni (Golkar)
Wakil Ketua : KH.
Masyur (Golkar)
3.
Pemilihan Umum
1982
Pemilihan
umum dilaksanakan secara serentak di Indonesia pada tanggal 4 Mei 1982, untuk
memilih 360 anggota dari seluruh jumlah anggota DPR yang ditetapkan sebesar 460
anggota. Sedangkan 100 anggota lainnya dilakukan melalui pengangkatan oleh
presiden. Pemilihan umum ketiga masa orde baru diadakan dengan hasil Golongan
Karya kembali sukses dalam mengumpulkan suara tunggal yaitu 48.334.724 suara
(64,34%), sedangkan PPP 20.871.880 suara (27,78%) dan PDI 5.919.702 suara (24
kursi). Ditinjau dari penguasaan kursi DPR maka Golongan Karya mendapat 246
kursi, jika ditambah 21 wakil Golkar nin ABRI DAN 75 wakil ABRI hasil
pengangkatan jumlah kursi Golkar menjadi 342 kursi (74,35%). Kursi yang
diduduki PPP 94 kursi (20,44%) dan PDI menduduki 24 kursi (5.21%). Susunan DPR
RI Tahun 1982-1987 adalah sebagi berikut:
Ketua
: H. Amir Mahmud (Golkar)
Wakil Ketua :
Dr. Amir Mustono, SH (Golkar)
Wakil Ketua : M.
Kharis Suhud (Golkar)
Wakil Ketua : H.
Nuddin Lubis (Golkar)
Wakil Ketua :
Drs. Hardjanto Sumodisastro (Golkar)
4.
Pemilihan Umum
1987
Pemungutan
suara pemilu 1987 diselenggarakan tanggal 23 April 1987 serentak di aeluruh
tanah air. Pada pemilihan umum ini Golkar kembali mengulang kesuksesannya,
jumlah pemilih ada 62.783.680 suara (73,17 %), sementara PPP memperoleh
13.701.428 suara (15.,97%), sedangkan PDI memperoleh 9.324.708 suara (10,86%).
Jumlah perolehan kursi DPR PPP 61 kursi Golkar 299 kursi dan PDI 40 kursi. Pada pemilihan umum tahun 1987 ini
jumlah kursi DPR ditingkatkan dari 460 menjadi 500 dan pemberian kursi pada
wakil non ABRI yang terakhir berjumlah 21 buah sekarang ditiadakan, tetapi
kursi ABRI dinaikkan jumlahnya dari 75 menjadi 100. Dengan demikian Golkar
semakin meneguhkan dirinya sebagai partai dominan yang selalu menang. Susunan
DPR RI Tahun 1987-1992 adalah sebagai
berikut:
Ketua
: M. Kharis Suhud (Golkar)
Wakil Ketua :
Syaiful (Golkar)
Wakil Ketua :
Sukardi (Golkar)
Wakil Ketua :
Drs. Suryadi (Golkar)
Wakil Ketua : J.
Naro, SH (Golkar)
5.
Pemilihan Umum
1992
Pemilihan
umum dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 1992 dan bertujuan untuk memilih
wakil-wakil yang duduk dilembaga perwakilan rakyat periode 1992-1997. Ditinjau
dari segi perolehan kursi DPR Golkar mendapat 282 kursi (56,40%) dengan
perolehan suara 66.599.331, partai politik hanya mendapat 118 kursi (23,60%)
yaitu PPP 62 kursi (12,40%) dengan perolehan suara 16.624.647 dan PDI 56 kursi
(11,20) dengan perolehan suara 14.565.556. dibandingkan dengan pemilihan umum
sebelumnya tahun 1987 Golkar turun 17 kursi, sedangkan PDI naik 16 kursi dan PPP turun 1 kursi, namun Golkar tetap
bertahan menjadi pemenang. Jumlah anggota DPR pada tahun ini adalah 500 orang
dengan 400 orang terpilih dalam pemilihan umum dan 100 orang diangkat presiden.
Susunan keanggotaan DPR RI Tahun 1992-1997 adalah sebagai berikut:
Ketua
: Wahono (Golkar)
Wakil Ketua :
Prof. Dr. John A Katil (Golkar)
Wakil Ketua :
Mayjen TNI Soetedjo (Golkar)
Wakil Ketua : H.
Ismail Hasan Metareum (Golkar)
Wakil Ketua :
Drs. Suryadi (Golkar)
6.
Pemilihan Umum
1997
Pemungutan
suara dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 1997. Pada tahun ini jumlah kursi DPR
Golkar naik mencapai 74,51%, sedangkan perolehan kursinya meningkat menjadi 325
atau bertambah 43 kursi dari hasil pemilu sebelumnya. Sedangkan partai politik
PPP juga meningkat 5,43% yaitu 89 kursi atau meningkat 27 kursi dari pemilu
sebelumnya karena dukungan terhadap partai PPP di Jawa sangat besar. Pada tahun
ini perolehan kursi DPR partai PDI
kembali merosot tajam, perolehan suaranya 11,84% dan hanya mendapat 11 kursi
yang berarti kehilangan 45 kursi di DPR dibandingkan pemilu 1992.
Tabel VI
Daftar Pembagian Kursi DPR RI 1997
No.
|
Partai
|
Perolehan Suara
|
Perolehan Kursi
|
||
1.
|
Golongan karya
|
84.187.907
|
325
|
||
2.
|
PPP
|
25.340.028
|
89
|
||
3.
|
PDI
|
3.463.225
|
11
|
||
JUMLAH
|
112.991.160
|
425
|
|||
B.
Pemilihan Umum
Masa Reformasi
1.
Pemilihan Umum 1999
pemilihan
umum dilaksanakan pada tanggal 7 juni 1999 yang diikuti oleh 48 partai karena
ada kebebasan untuk mendirikan partai politik. Dari 48 peserta hasil pembagian
kursi menunjukkan 5 partai besar yang memborong 417 kursi DPR atau 90,26% dari
462 kursi yang diperebutkan. Pada pemillihan umum kali ini PDIP sebagai
pemenangnya dengan memperoleh 35.689.073 suara (33,74%) dengan perolehan kursi
DPR 153 kursi, ditempat kedua diraih oleh Golkar dengan 23.741.758 suara
(22,44%) sehingga mendapat 120 kursi atau kehilangan 205 kursi dipemilu
sebelumnya, posisi ketigabdiraih oleh PPP dengan 13.336.982 suara (12,61%)
mendapat 58 kursi, PKB dengan 11.329.905 suara (10,71%) mendapat 51 kusi, PAN
mendapat 7.528.956 suara (7,112%) mendapat 34 kursi. Dari lima besar partai
tersebut, namun masih ada partai lama yang masih ikut, yaitu PDI merosot tajam
dan hanya mendapat 2 kursi atau kehilangan 9 kursi dibanding pemilu 1997.
Tabel VII
Daftar Pembagian Kursi DPR RI 1999
No.
|
Daerah pemilihan
|
PDIP
|
GOLKAR
|
PPP
|
PKB
|
PAN
|
1.
|
Aceh
|
2
|
2
|
4
|
-
|
2
|
2.
|
Sumatera Utara
|
10
|
5
|
3
|
1
|
2
|
3.
|
Sumatera Barat
|
2
|
4
|
3
|
-
|
3
|
4.
|
Riau
|
3
|
3
|
2
|
1
|
1
|
5.
|
Jambi
|
2
|
2
|
1
|
-
|
1
|
6.
|
Sumatera Selatan
|
26
|
4
|
2
|
1
|
1
|
7.
|
Bengkulu
|
7
|
1
|
1
|
-
|
1
|
8.
|
Lampung
|
27
|
3
|
1
|
2
|
1
|
9.
|
DKI Jakarta
|
26
|
2
|
3
|
2
|
3
|
10.
|
Jawa Barat
|
2
|
20
|
13
|
6
|
6
|
11
|
Jawa Tengah
|
23
|
8
|
7
|
10
|
4
|
12.
|
D.I. Yogyakarta
|
2
|
1
|
1
|
1
|
1
|
13.
|
Jawa Timur
|
2
|
9
|
4
|
24
|
4
|
14.
|
Kalimantan Barat
|
2
|
3
|
1
|
-
|
-
|
15.
|
Kalimantan Tengah
|
3
|
2
|
1
|
1
|
-
|
16.
|
Kalimantan Selatan
|
7
|
3
|
2
|
1
|
1
|
17.
|
Kalimantan Timur
|
1
|
2
|
1
|
-
|
1
|
18.
|
Bali
|
5
|
1
|
-
|
1
|
-
|
19.
|
NTB
|
2
|
4
|
1
|
-
|
1
|
20.
|
NTT
|
2
|
6
|
1
|
-
|
-
|
21.
|
Timor Timur
|
1
|
2
|
-
|
-
|
-
|
22.
|
Sulawesi Selatan
|
2
|
16
|
2
|
1
|
1
|
23.
|
Sulawesi Tengah
|
1
|
3
|
1
|
-
|
-
|
24.
|
Sulawesi Utara
|
2
|
4
|
1
|
-
|
-
|
25.
|
Sulawesi Tenggara
|
1
|
3
|
1
|
-
|
-
|
26.
|
Maluku
|
2
|
2
|
1
|
-
|
-
|
27.
|
Irian Jaya
|
4
|
5
|
-
|
-
|
-
|
Jumlah
|
153
|
120
|
58
|
51
|
-
|
2.
Pemilihan Umum
2004
Pemilihan
umum 2004 merupakan pemilu yang ke sembilan yang dilaksanakan di Indonesia
setelah proklamasi kemerdekaan. Pemilu 2004 merupakan pemilu yang demokratis.
Pada tahun ini pemilu dilaksanakan pada tanggal 5 April 2004 untuk memilih 550
anggota DPR RI, 128 anggota DPD beserta anggota DPRD Provinsi dan
Kabupaten/Kota. Pemilu 2004 diikuti oleh 24 partai politik, dari 124.420.339
orang pemilih suara 113.462.414 suara dinyatakan sah. Adapun hasil kursi DPR
dalam pemilu 2004 adalah sebagai berikut:
Tabel VIII
Daftar Pembagian Kursi DPR RI 2004
No.
|
Nama Partai
|
Perolehan Suara
|
Perolehan Kursi
|
||
1.
|
PNI
|
923.159
|
1
|
||
2.
|
PBSD
|
636.397
|
0
|
||
3.
|
PBB
|
2.970.487
|
11
|
||
4.
|
MERDEKA
|
842.541
|
0
|
||
5.
|
PPP
|
9.248.764
|
58
|
||
6.
|
PDK
|
1.313.564
|
5
|
||
7.
|
PIB
|
672.952
|
0
|
||
8.
|
PNBK
|
1.230.455
|
1
|
||
9.
|
DEMOKRAT
|
8.455.225
|
57
|
||
10.
|
PKPI
|
1.424.240
|
1
|
||
11.
|
PPDI
|
855.811
|
1
|
||
12.
|
PNUI
|
895.610
|
0
|
||
13.
|
PAN
|
7.303.324
|
52
|
||
14.
|
PKPB
|
2.399.290
|
2
|
||
15.
|
PKB
|
11.989.564
|
52
|
||
16.
|
PKS
|
8.325.020
|
45
|
||
17.
|
PBR
|
2.764.998
|
13
|
||
18.
|
PDIP
|
21.026.629
|
109
|
||
19.
|
PDS
|
2.414.254
|
12
|
||
20.
|
GOLKAR
|
24.480.757
|
128
|
||
21.
|
PANCASILA
|
1.073.139
|
0
|
||
22.
|
PSI
|
679.296
|
0
|
||
23.
|
PPD
|
657.916
|
0
|
||
24.
|
PELOPOR
|
8.78.932
|
2
|
||
JUMLAH
|
113.462.414
|
550
|
|||
Hasil
akhir pemilihan umum 2004 menunjukkan bahwa Golkar kembali menang dengan
memperoleh suara terbanyak. Namun 14 dari 24 partai menolak hasil pemilu dengan
tuduhan penghitungan suara tidak teratur. Golkar menerima jumlah kursi DPR
lebih banyak di 26 provinsi, meskipun dukungan terhadap Golkar di Sulawesi
berkurang karena munculnya partai menengah dan kecil di wilayahnya tersebut. PDIP
memenangkan jumlah suara terbesar di Bali, sedangkan PKB di Jawa Timur
berlangsung baik meskipun kehilangan suara. Susunan anggota DPR RI 2004-2009
adalah:
Ketua
: Agung Laksono (Golkar)
Wakil Ketua : Soetardjo
Soerjogaeritno (PDIP)
Wakil Ketua : Muhaimin
Iskandar (PKB)
Wakil Ketua : Zaenak
Maarif (PBR)
3.
Pemilihan Umum
2009
Pemungutan
suara diselenggarakan secara serentak yaitu pada tanggal 9 April 2009. Pemilu
ini diselenggarakan untuk memilih 560 anggota DPR, 132 anggota DPD, serta
anggota DPRD provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota. Pemilu anggota DPR 2009
diikuti oleh 28 partai politik dan daerah pemilihan pemilu anggota DPR adalah
provinsi atau gabungan Kabupaten/Kota dalam 1 provinsi, dengan total 77 daerah
pemilihan. Jumlah kursi untuk setiap daerah pemilihan berkisar 3-10 kursi,yang
ditentukan sesuai dengan jumlah penduduk. Berikut adalah daftar lima besar
partai politik yang memperoleh suara terbanyak.
Tabel XI
Daftar Pembagian Kursi DPR RI 2009
No.
|
Partai
|
Perolehan Suara
|
Perolehan Kursi
|
||
1.
|
Demokrat
|
21.703.137
|
150
|
||
2.
|
Golkar
|
15.037.757
|
107
|
||
3.
|
PDIP
|
14.600.091
|
95
|
||
PKS
|
8.296.955
|
57
|
|||
PAN
|
6.254.580
|
46
|
|||
JUMLAH
|
65.802.338
|
455
|
|||
Adapun
Susunan keanggotaan DPR RI Tahun 2009-2014 adalah sebagai berikut:
Ketua
: Marzuki Alie (Demokrat)
Wakil Ketua : Priyo
Budi Santoso
Wakil Ketua :
Pramono Anung
Wakil Ketua :
Anis Matta
Wakil Ketua :
Sohibul Imam
4.
Pemilihan Umum 2014
Pemilihan
umum 2014 merupakan pemilu yang ke sebelas (11) dengan dinamika pesta demokrasi
di Indonesia untuk pemilihan anggota legislatif. Pemilu legislatif
diselenggarakan pada tanggal 9 April 2014 untuk memilih 560 anggota DPR, 132
anggota DPD, serta anggota DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota se
Indonesia periode 2014-2019. Hampir semua parpol menginginan kursi ketua DPR
periode 2014-2019, bahkan partai politik yang tidak masuk dalam tiga besar
pemenang pemilu 2014 juga berancang-ancang menyiapkan kader mereka berebut
kursi DPR. Berikut adalah daftar perolehan kursi DPR 2014-2019:
Tabel X
Daftar Perolehan Kursi DPR 2014
No.
|
Nama Partai
|
Perolehan Suara
|
Perolehan Kursi
|
||
1.
|
PDIP
|
23.681.471
|
109
|
||
2.
|
Golkar
|
18.432.312
|
91
|
||
3.
|
Gerindra
|
14.760.371
|
73
|
||
4.
|
Demokrat
|
12.728.913
|
61
|
||
5.
|
PAN
|
9.481.621
|
49
|
||
6.
|
PKB
|
11.298.957
|
47
|
||
7.
|
PKS
|
8.480.204
|
40
|
||
8.
|
PPP
|
8.157.488
|
39
|
||
9.
|
Nasdem
|
8.402.812
|
35
|
||
10.
|
Hanura
|
6.579.498
|
16
|
||
2.
Cara Perhitungan
Perolehan Kursi DPR
Untuk
menghitung perolehan kursi partai politik untuk anggota DPRD Provinsi dan
anggota DPRD Kabupaten/Kota berbeda caranya dengan aturan perhitungan kursi
bagi anggota DPR. Pada pemilihan umum DPR, syarat pertama suara partai politik
dapat disertakan dalam penghitungan kursi adalah memenuhi PT 3,5 %. Untuk
menghitung jumlah kursi DPR ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan, yaitu:
1. Menentukan BPP (Bilangan Pembagi Pemilih)
Untuk menentukan angka BPP DPRdengan cara jumlah
suara sah seluruh partai politik peserta pemilu dibagi jumlah kursi di dapil
tersebut.
Contoh:
Pemilihan umum 2014 mendapat jumlah suara sah
seluruh partai politik yang lolos adalah 122.003.647 suara dan kursi yang
diperebutkan adalah 560 kursi, maka angka BPP nya 122.003.647: 560 kursi=
217.863,65536 suara. Setelah ditetapkan BPP, KPU baru dapat melakukan
penghitungan perolehan kursi partai politik, 217.863,65536 suara ini merupakan
harga 1 kursi.
2. Menghitung perolehan kursi dengan 2 tahap
Ada tiga
ketentuan penghitungan kursi pada tahap pertama, yaitu:
A.
Tahap pertama
1) Apabila suara sah suatu partai politik sama
jumlahnya atau lebih besar dibandingkan dengan BPP, partai politik tersebut
memperoleh kursi. Misalnya suara partai PDIP pada pemilu tahun 2014 adalah 23.681.471
suara dan angka BPP-nya 217.863,65536 suara, maka PDIP mendapat 109 kursi pada
tahap pertama.
2) Apabila dlam penghitungan tahap pertama masih
terdapat sisa suara, maka sisa suara tersebut akan dihitung dalam penghitungan
tahap kedua. Misalkan suatu partai A mendapat 300 ribu suara dan angka BPPnya
217.863,65536 maka partai A mendapat 1 kursi pada tahap pertama. Sisa suaranya
300 ribu-217.863,65536x1 kursi=82.163,344464, maka sisa suara nanti dihitung
dalam penghitungan tahap kedua.
3) Apabila suara sah suatu partai politik mencapai BPP
pada tahap pertama, maka partai politik tidak memperoleh kursi. Tapi ada
kemungkinan dapat kursi pada tahap kedua, karena jumlah suara sahnya masih
dihitung sebagai sisa suara. Contoh:
Pada
pemilihan umum 2004 partai merdeka memperoleh 842.521 suara maka tidak mendapai
BPP 217.863,65536 suara. Suara 842.521 adalah sisa suara yang dihitung untuk
tahap kedua.
B.
Tahap kedua
4) Tahap kedua dilakukan bila terdapat sisa kursi dalam
perhitungan tahap pertama. Apabila pada tahap pertama kursi sudah habis dengan
beberapa partai memenuhi dari angka BPP, maka tidak ada penghitungan tahap
kedua. Perhitungan tahap kedua dilakukan dengan cara membagikan sisa kursi yang
belum terbagi dalam perhitungan tahap pertama dengan cara membagikan jumlah
sisa kursi yang belum terbagi kepada partai politik peserta pemilu satu demi
satu sampai habis kepada parpol berdasarkan sisa suara terbanyak.
KESIMPILAN
Untuk memperebutkan jumlah kursi Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) dari pemilihan umum pertama 1955 sampai 2014 seluruh peserta
partai politik saling bersaing untuk memperoleh jumlah suara sah terbanyak agar
dapat memenangkan kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Mulai tahun 1971 Golkar
menjadi pemenang perebutan kursi DPR. Namun pada pemilu 1999 PDIP yang
memenangkan kursi DPR. Sedsangkan untuk cara perhitungan perolehan kursi DPR
dari pemilihan umum 1955 sampai 2014 caranya sama. Syarat pertama suara parpol
dapat disertakan dalam penghitungan suara adalah PT 3,5%.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar